Langit yang Tak Lagi Biru
Seperti tahun-tahun sebelumnya,
Ramadhan selalu datang pada waktunya. Hari ini aku memulai puasa pertama
diperantauan, jauh dari orang tua serta sanak saudara. Tidak ada sesiapapun
yang ku kenal di sini, di kota Metro Politan yang penuh hingar bingar keramaian
namun di dalamnya aku merasa kesepian. Sesepi makan sahurku tadi, tanpa teman
dan juga tanpa aneka ragam hidangan yang memenuhi meja makan seperti di rumah
ibu.
Ibu, setiap kata-katanya adalah
do’a dan harapannya padaku. Di kota inilah hidupku pertama kali jauh darinya.
Menuntut ilmu demi meraih cita-cita dan mewujudkan harapannya. Ku tegarkan diri
ini dengan siraman air wudhu, setiap kali aku merasakan kegelisahan yang
sepertinya tanpa ujung. Kembali ku selalu meluruskan niat, sebagai pondasi dan
arah aku menuntut ilmu. Bismillah... kumulai puasa ku.
Di perantauan inilah aku bukan
sekedar menuntut ilmu di bangku formal, namun aku juga banyak mengambil nilai
dari kehidupan serta kejadian di sekitar. Aku dan teman-teman sering sekali membeli
nasi bungkus di rumah makan Padang, karena harganya yang pas dikantong dan
porsi yang pas dengan teman sekamar di kosan.
Dua bulan yang lalu aku lebih
dahulu sampai di kosan, sembari menunggu teman sekamar pulang akupun pergi
membeli nasi bungkus faforit kami. Dalam perjalanan, darahku tersirap mendengar
kalimat-kalimat dari beberapa anak laki-laki yang sedang duduk didepan warung
yang aku lewati. Mereka menyebutkan penampilan fisikku, wajahku, rambutku,
kulitku bahkan hingga pakaian strit yang ku kenakan dan bentuk tubuhku. Rasanya
kaki ini berat sekali melangkah, rumah makan Padang yang tinggal beberapa meter
lagi serasa sangat jauh. Mulai dari siulan dan perkataan menggoda terus saja
mereka lontarkan. Aku hanya diam dan memandang ujung terompah yang ditenggeri
oleh kuku-kuku merah. Pikiranku berkecamuk, ada apa dengan ku? Aku tak
sedikitpun pernah kecentilan atau berkata-kata pada orang yang tidak ku kenal,
atau sengaja berdandan supaya jadi pusat perhatian. Tak pernah sedikitpun. Aku
marah tapi aku juga bingung.
Kejadian tersebut mengganggu
fikiranku setiap saat dengan pertanyaan besar, ada apa dengan Aku?. Hingga
suatu malam dari radio warisan nenek terdengar ‘da’i sejuta umat’ almarhum
KH.Zainuddin MZ. Berkata ‘menutup aurat itu wajib hukumnya, ibadah seorang
wanita yang tidak menutup aurat itu dipertanyakan’. Seketika itu aku melompat
terduduk dari baringku, ku besarkan volume radio di meja dekat ranjangku dan
pak Kiyai pun melanjutkan ‘ didalam terjemahan alqur’an surat An-Nur ayat 30 Allah
berkata bahwa ‘Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka
menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan
perhiasanya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kerudungnya ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya
(auratnya), kecuali kepada suami mereka...’. Mendengar itupun aku terperanjat,
menutupkan kain kerudung hingga kedada? Apa itu?. Terjemahan al qur’an...
memang ada ya? Aku pikir makna al qur’an itu hanyalah makna-makna tajwid saja
tanpa ada artinya. Aku seperti baru terbangun dari teori-teori pelajaran agama
di sekolah dan pelajaran di TPA.
Bismillah, keesokan harinya aku
mendatangi pustaka dan menanyakan kepada petugas, adakah al qur’an terjemah?.
Aku pun bergegas menuju rak buku yang ditunjukkan petugas. Dan benar saja,
disana aku jumpai sebuah kitab tebal lalu kubuka. Betapa kagetnya aku, setiap
ayat yang tertulis dalam kitab tersebut diterjemahkan dengan bahasa yang bisa
aku mengerti. Masih sambil berdiri, ku balik-balik al qur’an untuk mencari
pesan Kiyai semalam. Benar saja aku menemukan surat ke 24 yaitu surat an-Nur
yang artinya ‘cahaya’. Cahaya, aku seperti baru saja melihat titik terang
cahaya dalam selimut gelap yang pekat. Allah.. inikah jalanku.
‘Pak, al-qur’an dan artinya ini
kalau beli berapa ya harganya?’ aku kembali menghampiri petugas pustaka yang
masih duduk di kursinya. Dia pun mendongak kepadaku ‘kalau adik beli di toko
buku AA harganya ada yang dua puluh lima ribu rupiah dan yang lebih mahal juga
ada. ‘baiklah, terimakasih pak’ ucapku sembari tersenyum. Pak petugaspun
membalas senyum singkat sambil manggut-manggut.
Aku pun langsung naik angkot dari
depan pustaka menuju toko AA yang belum ku ketahui letaknya, yang jelas toko itu
ada di pasar raya tengah kota. Turun dari angkot, ternyata petugas parkir dan
pedagang buah tidak tahu dimana toko yang dimaksut. Namun penjual buah
menyarankan untuk bertanya kepada penjual aksessoris yang tempatnya di lantai
satu pasar. Penjual aksessoris pun menunjukkan peta jari dengan bahasa khas
medanya ‘kau naik saja tangga itu, lalu belok kiri setelah itu kau tengok kanan
ada toko pakaian haji’. ‘Tapi toko AA yang saya cari adalah yang menjual
al-qur’an bukan pakaian haji’ aku mengharap kepastian dari penjual yang baru
kedatangan calon pembeli ini. Ia pun kembali menengok ke arahku dan dengan
kumisnya tebalnya ia berkata ‘bah..macam tak pernah kesini saja kau ini, toko
yang kau tanya itu besar kali.. banyak pula yang dijualnya’. Saya pun tersenyum
dan manggut-manggut ‘baiklah, terimakasih penjelasanya pak.. saya segera
kesana’.
Itulah hari pertamaku bersama
al-qur’an. Kamu tahu bagaimana rasanya?. Mulai hari itu, ramadhan kali ini dan
insyaAllah hingga kapanpun aku akan terus memanjangkan kain kerudungku hingga
menutupi dada. Aku berharap cahaya itu terus menerangiku. Cahaya yang tak
pernah padam, menghilangkan keraguan dan kekhawatiranku akan kalimat para
lelaki yang ku lewati. Cahaya yang menerangiku kemanapun aku pergi. Aamiin...
Ramadhan 1, 1438 H
Komentar
Posting Komentar