Postingan

Menampilkan postingan dari Mei 28, 2017

NHW#3

Assalamu’alaikum suamiku sayang... Aku mendoakanmu senantiasa dalam limpahan ridho dan kasih sayang yang Maha Hidup... Terimakasih atas segala kemurahan dan kelembutan hati yang selalu terpancar tulus. Apa kabar cinta pertamaku... aku merindukanmu selalu. Hal yang unik yang sering kita rasakan beberapa tahun terakhir, kita sering merasa memendam rindu yang dalam, padahal 24 jam berada dalam rumah yang sama. Anugrah dan amanah Allah yang kita terima dengan syukur dan suka cita membuat kita tetap tersenyum meskipun dalam lelah di ujung malam. Anak-anak yang lucu dan selalu memiliki rasa ingin tahu setiap saat, sifat polos yang terlihat sangat tulus membuat kehidupan ini seperti sebuah permainan, semakin sering memainkannya semakin banyak kita bisa mengambil hikmah dan pelajaranya. Alhamdulillah sayang, pernikahan kita akan segera memasuki usia yang ke-8 tahun... adalah bukan waktu yang singkat untuk kita dapat menaklukkan halang rintang unik dan limited yang Allah hidangkan ...

Amplop Rumahku

Hari ini dunia pendidikan mulai menggemari sebuah model penghargaan dari jepang, yaitu bagi anak yang berprestasi akan diberikan hadiah/sebuah penghargaan sebagai bentuk apresiasi. Bentuk hadiahnya pun bermacam-macam tidak harus berupa uang ataupun benda-benda berharga lainya. Pada kesempatan Ramadhan kali ini, saya mencontek kreatifitas seorang teman homeschooler yang mengenalkan beberapa perangkat bahasa ke dua, kepada anak-anaknya. Diantaranya yaitu nama bulan dalam hijriah, foto perubahan ukuran bulan setiap harinya, angka dalam hitungan arab. Setiap amplop mewakili tiga kategori yang ditempel bershaf secara terbalik pada sebuah karton besar. Sehingga amplop-amplop tersebut siap diisi. Isinya boleh apa saja, seperti: stiker, note book mini, kue, mainan, ikat rambut atau bisa disesuaikan dengan keperluan anak dan permainan yang akan dimainkan. Setelah meminta izin, saya menduplikasi ide tersebut dengan modifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan usia anak-anak saya, ...

Langit yang Tak Lagi Biru

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan selalu datang pada waktunya. Hari ini aku memulai puasa pertama diperantauan, jauh dari orang tua serta sanak saudara. Tidak ada sesiapapun yang ku kenal di sini, di kota Metro Politan yang penuh hingar bingar keramaian namun di dalamnya aku merasa kesepian. Sesepi makan sahurku tadi, tanpa teman dan juga tanpa aneka ragam hidangan yang memenuhi meja makan seperti di rumah ibu. Ibu, setiap kata-katanya adalah do’a dan harapannya padaku. Di kota inilah hidupku pertama kali jauh darinya. Menuntut ilmu demi meraih cita-cita dan mewujudkan harapannya. Ku tegarkan diri ini dengan siraman air wudhu, setiap kali aku merasakan kegelisahan yang sepertinya tanpa ujung. Kembali ku selalu meluruskan niat, sebagai pondasi dan arah aku menuntut ilmu. Bismillah... kumulai puasa ku. Di perantauan inilah aku bukan sekedar menuntut ilmu di bangku formal, namun aku juga banyak mengambil nilai dari kehidupan serta kejadian di sekitar. Aku dan teman-teman...